Laman

Crescent

Crescent
di sini anda dapat belajar tentang suatu hal dan berbagai ilmu pengetahuan umum

Sabtu, 27 November 2010

Sedikit kata-kata (bag.3)

Terkadang kata-kata dimulut berlawanan dengan maksud yang ada di dalam hati, dan perkataan dimulut terkadang berkebalikan dengan isi hati.

Kita akan selalu tersenyum kepada orang yag kita suka.

Kita akan belajar membenci bila terluka dan akan dibenci serta merasa bersalah bila melukai orang lain.

Sedikit kata-kata (bag.2)

Terkadang kita mengabaikan dan tak memperhatikan batu permata di hadapan kita untuk mencari batu permata yang lebih indah, yang berada di puncak gunung, di sebrang samudera dan bahkan sampai di ujung dunia. Namun bisa jadi batu permata yang ada di hadapan dan di depan kita yang kita abaikan tadi jauh lebih bernilai.

Tanpa penderitaan orang tak akan saling mengerti dan memahami.

Cinta = penderitaan
Kita tak akan tau arti cinta kalau kita tak merasakan cinta itu sendiri. Begitu pula penderitaan, kita tak akan tahu bagaimana sakitnya penderitaan bila tak merasakannya sendiri. Hanya orang aneh yang tahu bagaimana indahnya cinta tanpa merasakannya sendiri. Dan cuma orang so’tau yang tahu bagaimana rasanya penderitaan tanpa mengalaminya sendiri.

Kamis, 25 November 2010

Sedikit kata-kata

Kita tak akan tahu arti penderitaan, rasa sakit, luka, dan kehilangan bila kita tak mengalamimnya sendiri. Omong kosong bagi orang yang tahu gimana rasanya penderitaan, kehilangan, rasa sakit dan luka yang kita rasakan tanpa merasakannya sendiri

Perceraian itu sejalan dengan rasa sakit, luka serta penderitaan.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Kepribadian ganda

DID atau kepribadian ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda.
Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil.
Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi).
Pernahkah kalian mendapatkan pengalaman seperti ini: Ketika sedang bertanya mengenai sesuatu hal kepada sahabat kalian, kalian malah mendapatkan jawaban yang tidak berhubungan sama sekali.
Jika pernah, maka saya yakin, ketika mendapatkan jawaban itu, kalian akan berkata “Nggak nyambung!”.
Disosiasi secara sederhana dapat diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran, perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang berlangsung.
Dalam kasus DID, juga terjadi disosiasi, namun jauh lebih rumit dibanding sekedar “nggak nyambung”.
Proses terbentuknya kepribadian ganda
Ketika kita dewasa, kita memiliki karakter dan kepribadian yang cukup kuat dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Namun, pada anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan itu belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap sebuah pengalaman traumatis, yaitu dengan Disosiasi.
Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas dari pengalaman mengerikan yang menimpanya.
Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Kita akan mengambil contoh pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan.
Proses Pertama: anak perempuan yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami “out of body experience” yang membuat ia “terlepas” dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada anak perempuan lain yang sedang mengalami pelecehan seksual. Dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul.
Proses Kedua, sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang telah diciptakan.
Sekarang, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya.
Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak identitas baru untuk mengatasinya. Ketika kebiasaan disosiasi ini telah mendarah daging, sang anak juga akan menciptakan identitas baru untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pengalaman traumatis seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman.
Salah satu kasus kepribadian ganda yang ternama, yaitu Sybil, disebut memiliki 16 identitas yang berbeda.
Menurut psikolog, jumlah identitas berbeda ini bisa lebih banyak pada beberapa kasus, bahkan hingga mencapai 100. Masing-masing identitas itu memiliki nama, umur, jenis kelamin, ras, gaya, cara berbicara dan karakter yang berbeda.
Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran sang penderita hanya dalam tempo beberapa detik. Proses pengambilalihan ini disebut switching dan biasanya dipicu oleh kondisi stres.
Ciri-ciri pengidap kepribadian ganda
Ketika membaca paragraf-paragraf di atas, mungkin kalian segera teringat dengan salah seorang teman sekolah kalian yang suka mengubah-ubah penampilannya. Bagi kalian, sepertinya ia memiliki identitas yang berbeda.
Atau mungkin kalian teringat dengan salah seorang teman kalian yang biasa tersenyum, namun secara tiba-tiba bisa dikuasai oleh emosi. Ketika amarahnya meledak, kalian bisa melihat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti “serigala”. Bagi kalian, sepertinya identitas baru yang penuh amarah telah menguasainya.
Apakah mereka pengidap DID?
Bagaimana cara kita mengetahuinya?
Jawabannya adalah pada identitas yang menyertai perubahan penampilan atau emosi tersebut.
Misalkan teman kalian yang suka mengubah penampilan atau sering mengalami perubahan emosi tersebut bernama Edward. Jika ia mengubah penampilan atau mengalami perubahan emosi dan masih menganggap dirinya sebagai Edward, maka ia bukan penderita DID.
Untuk mengerti lebih dalam bagaimana cara membedakannya, lihat empat ciri di bawah ini. Jika di dalam diri seseorang terdapat empat ciri ini, maka bisa dipastikan kalau ia mengidap DID atau kepribadian ganda.
Ciri-ciri tersebut adalah:
1. Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
2. Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
3. Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
4. Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.
Dari empat poin ini, poin nomor 3 memegang peranan sangat penting.
98 persen mereka yang mengidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa.

Walaupun sebagian besar psikolog telah mengakui adanya kelainan kepribadian ganda ini, namun sebagian lainnya menolak mengakui keberadaannya.

Kamis, 28 Oktober 2010

tanda pria psikopat

Kata Dr Robert Hare dalam bukunya Without Conscience: the Disturbing World of the Psychopats Among Us, psikopat bergentayangan di sekitar kita. Mereka bisa berada di kantor, tempat olahraga, arena hiburan, bahkan di lingkungan terdekat, seperti tetangga, suami atau pacar sekalipun. Sepintas, gelagat mereka tidak kelihatan seperti orang yang punya kelainan. Pasalnya, secara tampak mata mereka terlihat menarik, pintar dan berlaku seperti orang normal lainnya.

Hare mengungkapkan empat ciri karakter psikopat, yakni antisosial (antisocial), pribadi yang sulit diduga (borderlne), pandai bersandiwara (histrionic) dan luar biasa egois (narcisstic).
Seseorang yang antisosial biasanya cuek pada norma-norma sosial, tak peduli pada aturan, dan pemberontak. Kepribadiannya yang sulit ditebak, bisa terlihat dari ketidakstabilannya dalam hubungan interpersonal, citra diri, serta selalu bertindak menuruti kata hati. Tanpa peduli perbuatannya itu salah atau benar, mengganggu orang atau tidak.
Orang seperti ini cenderung impulsif (melakukan sesuatu tanpa pikir panjang), dan berpikiran negatif. Ia juga memiliki sifat pendendam. Sedikit saja Anda melakukan kesalahan, seumur hidup diingat dan suatu saat akan diungkit lagi. Sedangkan pribadi histrionic, emosinya tak terkendali alias meledak-ledak, dan selalu ingin menarik perhatian.
Ada lagi kepribadian narcisstic, yang ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu ingin dikagumi, serta minimnya empati. Ia selalu berusaha membuat hanya dirinya satu-satunya lelaki dalam hidup Anda. Hanya dialah yang boleh Anda puja.
Sedangkan indikasi lain orang psycho adalah manipulatif, egosentris, pembohong, mudah frustasi, dan gaya hidup parasit. Nah, seabrek sifat buruk ini mengerucut pada satu karakter tunggal: hipokrit alias munafik.

Dalam buku The Mask of Sanity, Dr. Hervey Cleckley menggambarkan psikopat sebagai pribadi yang likeable, charming, intelek, perhatian, impresif, punya pede tinggi, dan pintar merayu (karena itu mereka mudah "menipu" perempuan). Umumnya, mereka juga cerdas secara akademik.
Tapi, di balik itu semua, mereka membawa sifat negatif, seperti tidak bertanggung jawab, serta merusak diri sendiri dan orang lain. Ia kerap mengatakan ingin bunuh diri bila Anda memutuskan hubungan? Hm, hati-hati saja karena ia bisa melakukannya.
Para psikopat umumnya tidak pernah merasa menyesal, meski telah menyakiti orang lain. Bila belangnya ketahuan, wajahnya akan tetap seperti tak berdosa. Apa penyebabnya? Belum jelas. Hare menduga, psikopat terjadi akibat kelainan fungsi otak. Karena itu, si penderitanya tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dari yang emosional. Stimulus-stimulus ini diolah sekaligus oleh otak kiri dan kanan.
Namun, temuan lain menyebutkan, pengidap kelainan ini akibat dari latar belakang masa kecilnya yang "bermasalah", yang berakibat perkembangan emosinya kurang optimal. Menginjak dewasa, anak-anak ini tumbuh menjadi orang-orang yang tak bisa berempati dan tak memiliki kata hati.

Lantaran belum dipastikan penyebabnya, Hare berpendapat, psikopat belum bisa dipastikan dapat disembuhkan atau tidak. Namun, pendapat lain yang menduga kelaianan itu berawal karena salah asuh mengatakan, psikopat bisa dicegah. Asal, indikasi kelainannya terdeteksi sedini mungkin. Inilah tanda-tanda pria psikopat.

- Rajin Monitor. Setiap jam ia selalu menelepon untuk mencari tahu secara detil apa yang Anda lakukan saat itu, bersama siapa, dan sebagainya. Bila teleponnya tidak dijawab, ia akan meneror Anda hingga diangkat.

- Berbohong Tentang Masa Lalu. Ketika membicarakan mantan-mantannya, ia selalu memposisikan diri sebagai obyek penderita. Ia akan membual tentang mantan-mantannya yang bermasalah, dan bagaimana ia disakiti oleh mereka.

- Membajak Keluarga dan Teman. Tanpa meminta izin dan tidak melibatkan Anda, ia sering mengajak sahabat Anda nonton, menelepon teman-teman dan ibu Anda berjam-jam. Kelihatannya ia ingin mencari tahu tentang Anda, tapi Anda tidak pernah tahu motivasi dia sesungguhnya.

- Berdebat di Muka Umum. Ia tidak bisa memilih-milih tempat untuk bertengkar, bahkan ia kerap mengkritisi Anda di depan keluarga dan teman-teman.

- Sikapnya Susah Ditebak. Ia bisa tiba-tiba marah dan berteriak pada Anda tanpa alasan. Sedetik kemudian berlaku supermanis.

- Rajin Bohong. Ia biasa berbohong tentang apa saja, besar atau kecil, dan terkadang tanpa alasan.

- Menginterogasi Anda. Di matanya, Anda tidak pernah benar. Ia selalu ingin tahu mengapa Anda terlambat 10 menit. Ia akan menginterogasi Anda semalaman untuk memuaskan keingintahuannya.

- Memata-Matai. Awalnya ia akan melakukan invasi terhadap privasi Anda, kemudian ia akan mengecek email, telepon, bahkan berkunjung diam-diam ke kantor dan rumah untuk mencari tahu apakah ada lelaki lain dalam hidup Anda.

- Cemburu Berlebihan. Ia tidak tahan melihat Anda dekat dengan lelaki lain, meski itu teman Anda sendiri.

Minggu, 05 September 2010

Penderitaan & manusia

Penderitaan termasuk realitas
dunia dan manusia. Intensitas
penderitaan manusia
bertingkat-tingkat, ada yang
berat dan ada juga yang ringan.
Namun, peranan individu juga
menentukan berat-tidaknya
Intensitas penderitaan. Suatu
perristiwa yang dianggap
penderitaan oleh seseorang,
belum tentu merupakan
penderitaan bagi orang lain.
Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk
bangkit bagi seseorang, atau
sebagai langkah awal untuk
mencapai kenikmatan dan
kebahagiaan.
Akibat penderitaan yang
bermacam-macam. Ada yang
mendapat hikmah besar dari
suatu penderitaan, ada pula
yang menyebabkan kegelapan
dalam hidupnya. Oleh karena itu,
penderitaan belum tentu tidak
bermanfaat. Penderitaan juga
dapat ‘menular’ dari seseorang
kepada orang lain, apalagi kalau
yang ditulari itu masih sanak
saudara.
Mengenai penderitaan yang
dapat memberikan hikmah,
contoh yang gamblang dapat
dapat dicatat disini adalah
tokoh-tokoh filsafat
eksistensialisme. Misalnya
Kierkegaard (1813-1855),
seorang filsuf Denmark, sebelum
menjadi seorang filsuf besar,
masa kecilnya penuh
penderitaan. Penderitaan yang
menimpanya, selain melankoli
karena ayahnya yang pernah
mengutuk Tuhan dan berbuat
dosa melakukan hubungan
badan sebelum menikah dengan
ibunya, juga kematian delapan
orang anggota keluarganya,
termaksud ibunya, selama dua
tahun berturut-turut. Peristiwa
ini menimbulkan penderitaan
yang mendalam bagi Soren
Kierkegaard, dan ia menafsirkan
peristiwa ini sebagai kutukan
Tuhan akibat perbuatan
ayahnya. Keadaan demikian,
sebelum Kierkegaard muncul
sebagai filsuf, menyebabkan dia
mencari jalan membebaskan diri
(kompensasi) dari cengkraman
derita dengan jalan mabuk-
mabukan. Karena derita yang tak
kunjung padam, Kierkegaard
mencoba mencari “hubungan”
dengan Tuhannya, bersamaan
dengan keterbukaan hati
ayahnya dari melankoli. Akhirnya
ia menemukan dirinya sebagai
seorang filsuf eksistensial yang
besar.
Penderitaan Nietzsche
(1844-1900), seorang filsuf
Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu
sering sakit, lemah, serta
kematian ayahnya ketika ia
masih kecil. Keadaan ini
menyebabkan ia suka
menyendiri, membaca dan
merenung diantara kesunyian
sehingga ia menjadi filsuf besar.
Lain lagi dengan filsuf Rusia
yang bernama Berdijev
(1874-1948). Sebelum dia
menjadi filsuf, ibunya sakit-
sakitan. Ia menjadi filsuf juga
akibat menyaksikan
masyarakatnya yang sangat
menderita dan mengalami
ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre
(1905-1980) yang lahir di Paris,
Perancis. Sejak kecil fisiknya
lemah, sensitif, sehingga dia
menjadi cemoohan teman-
teman sekolahnya.
Penderitaanlah yang
menyebabkan ia belajar keras
sehingga menjadi filsuf yang
besar.
Masih banyak contoh lainnya
yang menunjukkan bahwa
penderitaan tidak selamanya
berpengaruh negatif dan
merugikan, tetapi dapat
merupakan energi pendorong
untuk menciptakan manusia-
manusia besar.
Contoh lain ialah penderitaan
yang menimpa pemimpin besar
umat Islam, yang terjadi pada
diri Nabi Muhammad. Ayahnya
wafat sejak Muhammad dua
bulan di dalam kandungan
ibunya. Kemudian, pada usia 6
tahun, ibunya wafat. Dari
peristiwa ini dapat dibayangkan
penderitaan yang menimpa
Muhammad, sekaligus menjadi
saksi sejarah sebelum ia menjadi
pemimpin yang paling berhasil
memimpin umatnya (versi
Michael Hart dalam Seratus
Tokoh Besar Dunia).
Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia yang paling
populer adalah kenikmatan,
sedangkan penderitaan adalah
sesuatu yang selalu dihindari
oleh manusia. Oleh karena itu,
penderitaan harus dibedakan
dengan kenikmatan, dan
penderitaan itu sendiri sifatnya
ada yang lama dan ada yang
sementara. Hal ini berhubungan
dengan penyebabnya. Macam-
macam penderitaan menurut
penyebabnya, antara lain:
penderitaan karena alasan fisik,
seperti bencana alam, penyakit
dan kematian; penderitaan
karena alasan moral, seperti
kekecewaan dalam hidup,
matinya seorang sahabat,
kebencian orang lain, dan
seterusnya.Semua ini
menyangkut kehidupan duniawi
dan tidak mungkin disingkirkan
dari dunia dan dari kehidupan
manusia.
Penderitaan dan kenikmatan
muncul karena alasan “saya
suka itu” atau “sesuatu itu
menyakitkan”. Kenikmatan
dirasakan apabila yang
dirasakan sudah didapat, dan
penderitaan dirasakan apabila
sesuatu yang menyakitkan
menimpa dirinya. Aliran yang
ingin secara mutlak
menghindari penderitaan adalah
hedonisme, yaitu suatu
pandangan bahwa kenikmatan
itu merupakan tujuan satu-
satunya dari kegiatan manusia,
dan kunci menuju hidup baik.
Penafsiran hedonisme ada dua
macam, yaitu:
1. Hedonisme psikologis yang
berpandangan bahwa semua
tindakan diarahkan untuk
mencapai kenikmatan dan
menghindari penderitaan.
2. Hedonisme etis yang
berpandangan bahwa semua
tindakan ‘harus’ ditujukan
kepada kenikmatan dan
menghindari penderitaan.
Kritik terhadap hedonisme ialah
bahwa tidak semua tindakan
manusia hedonistis, bahkan
banyak orang yang tampaknya
merasa bersalah atas
kenikmatan-kenikmatan mereka.
Dan hal ini menyebabkan
mereka mengalami penderitaan.
Pandangan Hedonis psikologis
ialah bahwa semua manusia
dimotivasi oleh pengejaran
kenikmatan dan penghindaran
penderitaan. Mengejar
kenikmatan sebenarnya tidak
jelas, sebab ada kalanya orang
menderita dalam rangka latihan-
latihan atau menyertai apa yang
ingin dicapai atau dikejarnya.
Kritik Aristoteles ialah bahwa
puncak etika bukan pada
kenikmatan, melainkan pada
kebahagiaan. Lebih lanjut ia
mengatakan bahwa kenikmatan
bukan tujuan akhir, melainkan
hanya “pelengkap” tindakan.
Berbeda dengan John Stuart Mill
yang membela Hedonisme
melalui jalan terhormat,
utilitarisme yaitu membela
kenikmatan sebagai kebaikan
tertinggi. Suatu tindakan itu baik
sejauh ia lebih “berguna” dalam
pengertian ini, yaitu sejauh
tindakan memaksimalkan
kenikmatan dan meninimalkan
penderitaan.
Penderitaan dan Kasihan
Kembali kepada masalah
penderitaan, muncul Nietzsche
yang memberontak terhadap
pernyataan yang berbunyi:
“ Dalam menghadapi
penderitaan itu, manusia merasa
kasihan ”. Menurut Nietzche,
pernyataan ini tidak benar,
penderiutaan itu adalah suatu
kekurangan vitalitas. Selanjutnya
ia berkata, “sesuatu yang vital
dan kuat tidak menderita, oleh
karenanya ia dapat hidup terus
dan ikut mengembangkan
kehidupan semesta alam. Orang
kasihan adalah yang hilang
vitaliatasnya, rapuh, busuk dan
runtuh. Kasihan itu merugikan
perkembangan hidup ”.
Sehingga dikatakannya bahwa
kasihan adalah pengultusan
penderitaan. Pernyataan
Nietzsche ini ada kaitannya
dengan latar belakang
kehidupannya yang penuh
penderitaan. Ia mencoba
memberontak terhadap
penderitaan sebagai realitas
dunia, ia tidak menerima
kenyataan. Seolah-olah ia
berkata, penderitaan jangan
masuk ke dalam hidup dunia.
Oleh karena itu, kasihan yang
tertuju kepada manusia harus
ditolak, katanya.
Pandangan Nietzsche tidak
dapat disetujui karena: pertama,
di mana letak humanisnya dan
aliran existensialisme. Kedua,
bahwa penderitaan itu ada
dalam hidup manusia dan dapat
diatasi dengan sikap kasihan.
Ketiga, tidak mungkin orang
yang membantu penderita,
menyingkir dan senang bila
melihat orang yang menderita.
Bila demikian, maka itu yang
disebut sikap sadisme. Sikap
yang wajar adalah menaruh
kasihan terhadap sesama
manusia dengan menolak
penderitaan, yakni dengan
berusaha sekuat tenaga untuk
meringankan penderitaan, dan
bila mungkin menghilangkannya
.
Penderitaan dan Noda Dosa
pada Hati Manusia.
Penderitaan juga dapat timbul
akibat noda dosa pada hati
manusia (Al-Ghazali, abad ke 11).
Menurut Al-Ghazali dalam
kitabnya Ihyaa ’ Ulumudin, orang
yang suka iri hati, hasad, dengki
akan menderita hukuman lahir-
batin, akan merasa tidak puas
dan tidak kenal berterima kasih.
Padahal dunia tidak
berkekurangan untuk orang-
orang di segala zaman. Allah
SWT telah memberi ilmu dan
kekayaan atau kekuasaan-Nya,
karena itu penderitaan-
penderitaan lahir ataupun batin
akan selalu menimpa orang-
orang yang mempunyai sifat iri
hati, hasad, dengki selama
hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang
menderita ini, sebelumnya perlu
diketahui tanda- tanda hati yang
sedang gelisah (hati yang sakit).
Perlu diketahui bahwa setiap
anggota badan diciptakan untuk
melakukan suatu pekerjaan.
Apabila hati sakit maka ia tidak
dapat melakukan pekerjaan
dengan sempurna ia kacau dan
gelisah. Ciri hati yang tidak dapat
melakukan pekerjaan ialah
apabila ia tidak dapat berilmu,
berhikmah, bermakrifat,
mencintai Allah dengan
menyembah-Nya, merasa erat
dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan
ciri-ciri yang menderita, Allah
berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan
manusia selain hanya untuk
menyembah kepada-Ku ”. (QS.
51: 56)
“Barangsiapa merasa mengerti
sesuatu, tetapi tidak mengenal
Allah, sesungguhnya orang
tersebut tidak mengerti apa-apa.
Barangsiapa mempunyai
sesuatu yang dicintainya lebih
daripada mencintai Allah, maka
sesungguhnya hatinya sakit.
“ katakanlah, hai Muhammad,
apabila orang tuamu, anakmu,
saudaramu, istrimu, handai
tolanmu, harta bendamu yang
engkau tumpuk dalam simpanan
serta barang dagangan yang
yang engkau khawatirkan
ruginya dan rumah tempat
tinggal yang kamu senangi itu
lebih kamu cinta daripada Allah
dan Rasul-Nya serta berjuang di
jalan Allah, maka tunggulah
sampai perintah Allah datang ”.
(QS. 9: 24).
Hal lain yang menimbulkan
derita terhadap seseorang
adalah merasakan suatu
keinginan atau dorongan yang
tidak dapat diterima atau
menimbulkan keresahan,
gelisah, atau derita. Maka ia pun
berusaha menjauhkan diri dari
lingkup kesadaran atau
perasaannya. Akhirnya,
keinginan atau dorongan itu
tertahan dalam alam bawah
sadar. Namun, sering orang itu
mengekspresikan keinginan
atau dorongan itu secara tidak
sadar atau dengan ucapan yang
keliru. Atau, apakah orang-orang
yang ada penyakit dalam hatinya
mengira bahwa Allah tidak akan
menampakkan kedengkian
mereka?
“Dan kalau Kami mengkhendaki,
niscaya Kami tunjukkan mereka
kepadamu, sehingga kamu
dapat benar-benar mengenal
mereka dengan tanda-tandanya,
tetapi kamu mengenal mereka
dari bicara mereka, dan Allah
mengetahui perbuatan-
perbuatan kamu ”. (QS. 47:
29-30).
Demikianlah Al-Quran telah
mengisyaratkan tentang adanya
ciri-ciri orang yang tidak sadar
(menderita) lewat kata-kata
yang keliru, sejak 14 abat yang
lalu sebelum dikemukakan oleh
Freud, penemu teori
psikoanalisis. Bahkan sebuah
hadist mengatakan:
“Tak seorang pun yang
menyembunyikan suatu rahasia
kecuali jika Allah akan
memberinya penutup. Apabila
penutup itu baik, maka rahasia
itu baik, dan apabila penutup itu
buruk maka buruk pula rahasia
itu”. (Tafsir Ibn Katsir, Vol. 4 hal.
180).
Obat supaya hati sehat di
firmankan Allah sebagai berikut:
“Kecuali orang yang datang ke
hadirat Allah SWT dengan hati
yang suci ”. (QS. 26: 89 ).
Jadi, mengenal atau makrifat
kepada Allah yang membawa
semangat taat kepada Allah SWT
dengan cara menentang hawa
nafsu, merupakan obat untuk
menyembuhkan penyakit dalam
hati (menderita gelisah) (Al-
Ghazali, abad ke-11)