Laman

Crescent

Crescent
di sini anda dapat belajar tentang suatu hal dan berbagai ilmu pengetahuan umum

Minggu, 05 September 2010

Penderitaan & manusia

Penderitaan termasuk realitas
dunia dan manusia. Intensitas
penderitaan manusia
bertingkat-tingkat, ada yang
berat dan ada juga yang ringan.
Namun, peranan individu juga
menentukan berat-tidaknya
Intensitas penderitaan. Suatu
perristiwa yang dianggap
penderitaan oleh seseorang,
belum tentu merupakan
penderitaan bagi orang lain.
Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk
bangkit bagi seseorang, atau
sebagai langkah awal untuk
mencapai kenikmatan dan
kebahagiaan.
Akibat penderitaan yang
bermacam-macam. Ada yang
mendapat hikmah besar dari
suatu penderitaan, ada pula
yang menyebabkan kegelapan
dalam hidupnya. Oleh karena itu,
penderitaan belum tentu tidak
bermanfaat. Penderitaan juga
dapat ‘menular’ dari seseorang
kepada orang lain, apalagi kalau
yang ditulari itu masih sanak
saudara.
Mengenai penderitaan yang
dapat memberikan hikmah,
contoh yang gamblang dapat
dapat dicatat disini adalah
tokoh-tokoh filsafat
eksistensialisme. Misalnya
Kierkegaard (1813-1855),
seorang filsuf Denmark, sebelum
menjadi seorang filsuf besar,
masa kecilnya penuh
penderitaan. Penderitaan yang
menimpanya, selain melankoli
karena ayahnya yang pernah
mengutuk Tuhan dan berbuat
dosa melakukan hubungan
badan sebelum menikah dengan
ibunya, juga kematian delapan
orang anggota keluarganya,
termaksud ibunya, selama dua
tahun berturut-turut. Peristiwa
ini menimbulkan penderitaan
yang mendalam bagi Soren
Kierkegaard, dan ia menafsirkan
peristiwa ini sebagai kutukan
Tuhan akibat perbuatan
ayahnya. Keadaan demikian,
sebelum Kierkegaard muncul
sebagai filsuf, menyebabkan dia
mencari jalan membebaskan diri
(kompensasi) dari cengkraman
derita dengan jalan mabuk-
mabukan. Karena derita yang tak
kunjung padam, Kierkegaard
mencoba mencari “hubungan”
dengan Tuhannya, bersamaan
dengan keterbukaan hati
ayahnya dari melankoli. Akhirnya
ia menemukan dirinya sebagai
seorang filsuf eksistensial yang
besar.
Penderitaan Nietzsche
(1844-1900), seorang filsuf
Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu
sering sakit, lemah, serta
kematian ayahnya ketika ia
masih kecil. Keadaan ini
menyebabkan ia suka
menyendiri, membaca dan
merenung diantara kesunyian
sehingga ia menjadi filsuf besar.
Lain lagi dengan filsuf Rusia
yang bernama Berdijev
(1874-1948). Sebelum dia
menjadi filsuf, ibunya sakit-
sakitan. Ia menjadi filsuf juga
akibat menyaksikan
masyarakatnya yang sangat
menderita dan mengalami
ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre
(1905-1980) yang lahir di Paris,
Perancis. Sejak kecil fisiknya
lemah, sensitif, sehingga dia
menjadi cemoohan teman-
teman sekolahnya.
Penderitaanlah yang
menyebabkan ia belajar keras
sehingga menjadi filsuf yang
besar.
Masih banyak contoh lainnya
yang menunjukkan bahwa
penderitaan tidak selamanya
berpengaruh negatif dan
merugikan, tetapi dapat
merupakan energi pendorong
untuk menciptakan manusia-
manusia besar.
Contoh lain ialah penderitaan
yang menimpa pemimpin besar
umat Islam, yang terjadi pada
diri Nabi Muhammad. Ayahnya
wafat sejak Muhammad dua
bulan di dalam kandungan
ibunya. Kemudian, pada usia 6
tahun, ibunya wafat. Dari
peristiwa ini dapat dibayangkan
penderitaan yang menimpa
Muhammad, sekaligus menjadi
saksi sejarah sebelum ia menjadi
pemimpin yang paling berhasil
memimpin umatnya (versi
Michael Hart dalam Seratus
Tokoh Besar Dunia).
Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia yang paling
populer adalah kenikmatan,
sedangkan penderitaan adalah
sesuatu yang selalu dihindari
oleh manusia. Oleh karena itu,
penderitaan harus dibedakan
dengan kenikmatan, dan
penderitaan itu sendiri sifatnya
ada yang lama dan ada yang
sementara. Hal ini berhubungan
dengan penyebabnya. Macam-
macam penderitaan menurut
penyebabnya, antara lain:
penderitaan karena alasan fisik,
seperti bencana alam, penyakit
dan kematian; penderitaan
karena alasan moral, seperti
kekecewaan dalam hidup,
matinya seorang sahabat,
kebencian orang lain, dan
seterusnya.Semua ini
menyangkut kehidupan duniawi
dan tidak mungkin disingkirkan
dari dunia dan dari kehidupan
manusia.
Penderitaan dan kenikmatan
muncul karena alasan “saya
suka itu” atau “sesuatu itu
menyakitkan”. Kenikmatan
dirasakan apabila yang
dirasakan sudah didapat, dan
penderitaan dirasakan apabila
sesuatu yang menyakitkan
menimpa dirinya. Aliran yang
ingin secara mutlak
menghindari penderitaan adalah
hedonisme, yaitu suatu
pandangan bahwa kenikmatan
itu merupakan tujuan satu-
satunya dari kegiatan manusia,
dan kunci menuju hidup baik.
Penafsiran hedonisme ada dua
macam, yaitu:
1. Hedonisme psikologis yang
berpandangan bahwa semua
tindakan diarahkan untuk
mencapai kenikmatan dan
menghindari penderitaan.
2. Hedonisme etis yang
berpandangan bahwa semua
tindakan ‘harus’ ditujukan
kepada kenikmatan dan
menghindari penderitaan.
Kritik terhadap hedonisme ialah
bahwa tidak semua tindakan
manusia hedonistis, bahkan
banyak orang yang tampaknya
merasa bersalah atas
kenikmatan-kenikmatan mereka.
Dan hal ini menyebabkan
mereka mengalami penderitaan.
Pandangan Hedonis psikologis
ialah bahwa semua manusia
dimotivasi oleh pengejaran
kenikmatan dan penghindaran
penderitaan. Mengejar
kenikmatan sebenarnya tidak
jelas, sebab ada kalanya orang
menderita dalam rangka latihan-
latihan atau menyertai apa yang
ingin dicapai atau dikejarnya.
Kritik Aristoteles ialah bahwa
puncak etika bukan pada
kenikmatan, melainkan pada
kebahagiaan. Lebih lanjut ia
mengatakan bahwa kenikmatan
bukan tujuan akhir, melainkan
hanya “pelengkap” tindakan.
Berbeda dengan John Stuart Mill
yang membela Hedonisme
melalui jalan terhormat,
utilitarisme yaitu membela
kenikmatan sebagai kebaikan
tertinggi. Suatu tindakan itu baik
sejauh ia lebih “berguna” dalam
pengertian ini, yaitu sejauh
tindakan memaksimalkan
kenikmatan dan meninimalkan
penderitaan.
Penderitaan dan Kasihan
Kembali kepada masalah
penderitaan, muncul Nietzsche
yang memberontak terhadap
pernyataan yang berbunyi:
“ Dalam menghadapi
penderitaan itu, manusia merasa
kasihan ”. Menurut Nietzche,
pernyataan ini tidak benar,
penderiutaan itu adalah suatu
kekurangan vitalitas. Selanjutnya
ia berkata, “sesuatu yang vital
dan kuat tidak menderita, oleh
karenanya ia dapat hidup terus
dan ikut mengembangkan
kehidupan semesta alam. Orang
kasihan adalah yang hilang
vitaliatasnya, rapuh, busuk dan
runtuh. Kasihan itu merugikan
perkembangan hidup ”.
Sehingga dikatakannya bahwa
kasihan adalah pengultusan
penderitaan. Pernyataan
Nietzsche ini ada kaitannya
dengan latar belakang
kehidupannya yang penuh
penderitaan. Ia mencoba
memberontak terhadap
penderitaan sebagai realitas
dunia, ia tidak menerima
kenyataan. Seolah-olah ia
berkata, penderitaan jangan
masuk ke dalam hidup dunia.
Oleh karena itu, kasihan yang
tertuju kepada manusia harus
ditolak, katanya.
Pandangan Nietzsche tidak
dapat disetujui karena: pertama,
di mana letak humanisnya dan
aliran existensialisme. Kedua,
bahwa penderitaan itu ada
dalam hidup manusia dan dapat
diatasi dengan sikap kasihan.
Ketiga, tidak mungkin orang
yang membantu penderita,
menyingkir dan senang bila
melihat orang yang menderita.
Bila demikian, maka itu yang
disebut sikap sadisme. Sikap
yang wajar adalah menaruh
kasihan terhadap sesama
manusia dengan menolak
penderitaan, yakni dengan
berusaha sekuat tenaga untuk
meringankan penderitaan, dan
bila mungkin menghilangkannya
.
Penderitaan dan Noda Dosa
pada Hati Manusia.
Penderitaan juga dapat timbul
akibat noda dosa pada hati
manusia (Al-Ghazali, abad ke 11).
Menurut Al-Ghazali dalam
kitabnya Ihyaa ’ Ulumudin, orang
yang suka iri hati, hasad, dengki
akan menderita hukuman lahir-
batin, akan merasa tidak puas
dan tidak kenal berterima kasih.
Padahal dunia tidak
berkekurangan untuk orang-
orang di segala zaman. Allah
SWT telah memberi ilmu dan
kekayaan atau kekuasaan-Nya,
karena itu penderitaan-
penderitaan lahir ataupun batin
akan selalu menimpa orang-
orang yang mempunyai sifat iri
hati, hasad, dengki selama
hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang
menderita ini, sebelumnya perlu
diketahui tanda- tanda hati yang
sedang gelisah (hati yang sakit).
Perlu diketahui bahwa setiap
anggota badan diciptakan untuk
melakukan suatu pekerjaan.
Apabila hati sakit maka ia tidak
dapat melakukan pekerjaan
dengan sempurna ia kacau dan
gelisah. Ciri hati yang tidak dapat
melakukan pekerjaan ialah
apabila ia tidak dapat berilmu,
berhikmah, bermakrifat,
mencintai Allah dengan
menyembah-Nya, merasa erat
dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan
ciri-ciri yang menderita, Allah
berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan
manusia selain hanya untuk
menyembah kepada-Ku ”. (QS.
51: 56)
“Barangsiapa merasa mengerti
sesuatu, tetapi tidak mengenal
Allah, sesungguhnya orang
tersebut tidak mengerti apa-apa.
Barangsiapa mempunyai
sesuatu yang dicintainya lebih
daripada mencintai Allah, maka
sesungguhnya hatinya sakit.
“ katakanlah, hai Muhammad,
apabila orang tuamu, anakmu,
saudaramu, istrimu, handai
tolanmu, harta bendamu yang
engkau tumpuk dalam simpanan
serta barang dagangan yang
yang engkau khawatirkan
ruginya dan rumah tempat
tinggal yang kamu senangi itu
lebih kamu cinta daripada Allah
dan Rasul-Nya serta berjuang di
jalan Allah, maka tunggulah
sampai perintah Allah datang ”.
(QS. 9: 24).
Hal lain yang menimbulkan
derita terhadap seseorang
adalah merasakan suatu
keinginan atau dorongan yang
tidak dapat diterima atau
menimbulkan keresahan,
gelisah, atau derita. Maka ia pun
berusaha menjauhkan diri dari
lingkup kesadaran atau
perasaannya. Akhirnya,
keinginan atau dorongan itu
tertahan dalam alam bawah
sadar. Namun, sering orang itu
mengekspresikan keinginan
atau dorongan itu secara tidak
sadar atau dengan ucapan yang
keliru. Atau, apakah orang-orang
yang ada penyakit dalam hatinya
mengira bahwa Allah tidak akan
menampakkan kedengkian
mereka?
“Dan kalau Kami mengkhendaki,
niscaya Kami tunjukkan mereka
kepadamu, sehingga kamu
dapat benar-benar mengenal
mereka dengan tanda-tandanya,
tetapi kamu mengenal mereka
dari bicara mereka, dan Allah
mengetahui perbuatan-
perbuatan kamu ”. (QS. 47:
29-30).
Demikianlah Al-Quran telah
mengisyaratkan tentang adanya
ciri-ciri orang yang tidak sadar
(menderita) lewat kata-kata
yang keliru, sejak 14 abat yang
lalu sebelum dikemukakan oleh
Freud, penemu teori
psikoanalisis. Bahkan sebuah
hadist mengatakan:
“Tak seorang pun yang
menyembunyikan suatu rahasia
kecuali jika Allah akan
memberinya penutup. Apabila
penutup itu baik, maka rahasia
itu baik, dan apabila penutup itu
buruk maka buruk pula rahasia
itu”. (Tafsir Ibn Katsir, Vol. 4 hal.
180).
Obat supaya hati sehat di
firmankan Allah sebagai berikut:
“Kecuali orang yang datang ke
hadirat Allah SWT dengan hati
yang suci ”. (QS. 26: 89 ).
Jadi, mengenal atau makrifat
kepada Allah yang membawa
semangat taat kepada Allah SWT
dengan cara menentang hawa
nafsu, merupakan obat untuk
menyembuhkan penyakit dalam
hati (menderita gelisah) (Al-
Ghazali, abad ke-11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar